pengabmas

PENGABMAS

Anak merupakan aset bangsa yang paling berharga di masa yang akan datang. Oleh karena itu, pembangunan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun manusia seutuhnya antara lain diselenggarakan melalui upaya kesehatan anak yang dilakukan sedini mungkin. Upaya kesehatan yang dilakukan sejak anak masih dalam kandungan sampai lima tahun pertama kehidupannya ditujukan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sekaligus meningkatkan kualitas hidup agar mencapai tumbuh kembang optimal baik fisik, mental, emosional maupun sosial serta memiliki intelgensi majemuk sesuai dengan potensi genetiknya. (Dep.Kes RI, 2007)

Mengingat jumlah balita di Indonesia sangat besar yaitu sekitar 10% dari 230 juta total jumlah penduduk indonesia, maka sebagai calon generasi penerus bangsa, kualitas tumbuh kembang balita di Indonesia perlu mendapatkan perhatian serius yakni mendapatkan gizi yang baik, stimulasi yang memadai serta terjangkau oleh pelayanan kesehatan berkualitas termasuk deteksi dan intervensi dini penyyimpangan tumbuh kembang.

Pembinaan tumbuh kembang anak merupakan salah satu upaya prioritas dalam mempersiapkan anak Indonesia menjadi calon generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, ceria, tangguh dan berbudi luhur. Upaya pembinaan tumbuh kembang anak diarahkan untuk meningkatkan kesehatan fisik, mental dan psikososial anak melalui kegiatan “stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang”. Upaya tersebut sedini mungkin sejak dalam kandungan, dengan perhatian khusus pada anak dibawah lima tahun, termasuk anak pra sekolah, karena masa ini merupakan masa yang sangat peka terhadap lingkungan dan berlangsung sangat pendek serta tidak dapat diulang lagi, sehingga pada masa ini disebut sebagai masa keemasan (golden period), jendela kesempatan (window of opportunity) dan masa kritis (critical periode).

Stimulasi merupakan kegiatan merangsang kemampuan dasar anak agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Setiap anak perlu mendapatkan stimulasi rutin sedini mungkin secara tepat dan terus menerus pada setiap kesempatan, baik dilingkungan keluarga maupun sekolah dan masyarakat. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang menetap (IDAI, 2010). Daripada itu, anak harus mendapatkan pemantauan akan tumbuh kembangnya, apakah anak dapat umbuh dan berkembang sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya. Kegiatan pemantauan yang biasa disebut dengan deteksi dini tumbuh kembang anak tidak kalah pentingnya untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang anak. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan atau msalah tumbuh kembang anak, maka intervensi akan lebih mudah dilakukan dan tenaga kesehatan juga memiliki “waktu” dalam membuat rencana tindakan yang tepat sehingga hasilnya akan maksimal. Bila penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensi akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak.

Pada tanggal 28 November 2018, Prodi DIII Kebidanan telah melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat Deteksi Dini Tumbuh Kembang di TK AL Muttaqin Dususn Mlaten Desa Bandungsari Kecamatan Sukodadi Kabupaten Lamongan.

progmas kebidanan umla
Berdasarkan hasil Pemeriksaan DDTK dari 33 anak yang diperiksa, pada aspek pertumbuhan, hampir seluruhnya (79 %) anak prasekolah memiliki gizi normal (gizi baik), dan hampir seluruhnya (94 %) memiliki lingkar kepala normal. Pada aspek perkembangan, seluruhnya (100%) anak prasekolah memiliki perkembangan yang sesuai tahapan usianya, seluruhnya (100%) anak prasekolah daya dengarnya normal. Sedangkan pada aspek mental emosional, hampir seluruhnya (91%) tidak mengalami gangguan mental emosional, dan seluruhnya (100%) tidak mengalami gangguan perilaku dan pemusatan perhatian. Hasil pemeriksaan disampaikan kepada orang tuan masing-masing dan memberikan motivasi kepada orang tua untuk rutin membawa anaknya ke posyandu dan terus melakukan stimulasi sesuai tahap usia anak.